Penulis: Anis Risalatul Husna
Diterbitkan pada majalah LPM Figur edisi 67
Duduk di depan teras rumah ditemani sebuah bunga plastik yang berdiri kokoh bersama vas bunga diatas meja. Tak mau tertinggal secangkir kopi tubruk yang menjadi minuman andalan setiap pagi sudah tersaji nikmat mengawali hari laki-laki bujang berkulit sawo matang itu. Dia Noerlan,
pengangguran tulen di desaku. Orang-orang kampung biasa memanggil ia mas Lan.
"Monggo mas lan", ucap ibu Parti, tetangga Noerlan yang berjalan melewati rumah Noerlan dengan
jinjingan tas belanja di tangan kanan. Begitulah kampungku, orang-orang saling tegur sapa setiap
bertemu. Menurut kami, dengan seperti itu kerukunan dan kekeluargaan antar warga akan tetap
terjaga.
Tak butuh waktu lama terlihat dari arah barat seorang bapak yang membonceng anaknya dengan
sepeda onta tua melaju dengan kecepatan tidak beraturan. Sesekali terlihat bapak itu sedikit
tersendat dengan kayuhan sepedanya. Setelah menyeruput minuman hitam miliknya, Noerlan pun
menyapa,
"Badhe ngeteraken larenipun sekolah pak Samin ?"
"injih mas Lan. Monggo mas.", jawab pak Samin sembari tersenyum khas yang menjauhi
rumah Noerlan menuju arah timur.
Noerlan memang pengangguran. Walau begitu bukan berarti ia tidak punya usaha untuk mencari pekerjaan.
Setelah beberapa waktu lalu terkena PHK karena pabrik tempat Noerlan bekerja mengalami
kebangkrutan, surat lamaran untuk berbagai perusahaan telah ia kirimkan. Mulai dari pabrik kabel,
pabrik rokok, hingga pabrik tekstil. Nyatanya sampai saat ini belum ada panggilan kerja untuknya.
Noerlan masih diposisi awal, meresapi kenikmatan kopi dengan iringan nada burung-burung pagi
yang berterbangan hinggap dari pohon satu ke pohon yang lain, mengesampingkan sejenak tekanan
batin yang dirasa karena tidak punya penghasilan. Berangkat dari pengangguran tulen, Noerlan menjadi pekerja serabutan. Pendapatan tidak tetap. Meskipun demikian, seringkali ia bersyukur masih dapat menikmati kearifan ciptaan sang Pencipta dengan dicukupkan kebutuhan primer nya selama ini. Berdomisi di kampung yang jauh dari perkotaan ternyata tak sulit sekedar mendapatkan
penghasilan. Dengan menjadi pekerja serabutan sembari menunggu panggilan kerja, sudah dirasa
cukup untuk memenuhi kebutuhan makan setiap hari.
Terlihat dari arah timur pak Samin berjalan menuju rumah Noerlan. Masih bersama sepeda onta
tuanya. Kali ini berbeda, jika waktu berangkat pak samin menaiki sepedanya, saat pulang beliau
menuntun sepeda. Noerlan menyangka yakin pasti karena rantai sepeda yang lepas lagi. Ya.
Kerapkali Noerlan mendapati pak Samin menuntun sepeda ontanya. Saat ditanya mengapa , pasti
jawabannya tak jauh berbeda yakni rantai sepeda yang lepas.
Pak samin, seorang bapak dari dua anak laki-laki dan bekerja sebagai buruh tani di desaku. Anak pertama tamatan SMP yang saat ini juga menjadi buruh tani. Anak kedua berumur lima tahun yang masih menginjak pendidikan taman kana-kanak. Bila sawah tak memberi kerja, ia tak segan menjadi pekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pak Samin memiliki istri bernama Warsinah yang setiap pagi menjual nasi pecel dan jajanan pasar di depan rumah. Rumah pak samin tak terlalu jauh dari rumahku. Tidak sulit menemukan rumah mereka. Dari pintu gapura masuk desaku kearah selatan kemudian belok kanan ke arah barat. Tepat rumah pak samin berada di nomor 3 dari
pertigaan.
Semua warga mengenalnya dengan baik. Bagaimana tidak, diera modern saat ini yang mana
penduduk desaku digilakan dengan berbagai merk dan model sepeda motor, dari sekian puluh
keluarga di RT ku hanya pak samin lah yang masih mempertahankan diri mengendarai sepeda.
Suatu hari Noerlan bersumpah, "jika ia telah bekerja di pabrik kembali dan gajinya sudah cukup
untuk membeli ladang milik pak Galuh, ia akan menghibahkan sepeda motornya yang ia beli dari
hasil gaji 5 bulan pertamanya dulu."
Laki-laki yang kerap disapa mas Lan itu sempat ditanya oleh mak nya tentang alasan kenapa
menghibahkan sepeda motor. Bukankah lebih berharga uang saja bisa digunakan untuk kebutuhan
sehari-hari ataupun untuk modal usaha buka warung . Juga kenapa harus menunggu ladang pak
Galuh ditangan Noerlan? Toh memberi sedekah tidak harus menunggu berkecukupan dan tidak ada
yang tahu umur seseorang bisa sampai kapan. "Uang bisa melalaikan mak. Sepeda motor setidaknya bisa mengurangi keresahan pak Samin saat mengantarkan anaknya sekolah. Sepeda motor ini juga bukanlah asongan. Untuk perihal waktu, bukan apa-apa mak. Hanya saja Noerlan yakin ladang milik pak Galuh memiliki banyak potensi." İni juga keinginan almarhum bapak waktu masih hidup dahulu.", ucap Noerlan suatu hari.
******
Pagi ini Noerlan memiliki agenda untuk pergi ke puskesmas. Bukan karena sakit, melainkan untuk
mencari surat keterangan sehat sebagai syarat melamar pekerjaan. Kali ini Noerlan berencana
melamar pekerjaan di salah satu pabrik makanan di Pasuruan. Selain ke puskesmas, Noerlan juga
ada agenda pergi ke kapolsek untuk perpanjangan surat SKKB (Surat Keterangan Kelakuan Baik)
mengingat SKKB yang ia miliki sudah habis masa berlaku sejak bulan September lalu.
Sebelum berangkat ke puskesmas maupun ke kapolsek Noerlan masih memiliki tanggungan harian,
yakni mengantarkan Mak nya untuk jaga toko sembako milik keluarga nya. Seperti biasa, Noerlan
bepergian selalu dengan motor yang ia miliki, alat tranportasi pribadi bermesin yang menjadi satu-
satunya kendaraan tercepat yang ia miliki.
******
Masih dengan suasana yang sama. Desaku tak jauh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Pak
Samin dengan sepeda onta tuanya yang setiap pagi berangkat menuju tempat kerja, sawah warga.
Juga ibu-ibu kampung yang silih berganti, kadang bergerombol melewati rumah Noerlan dengan
jinjingan tas belanja di tangan kanan. Sudah memasuki takun ke - 5 Noerlan bekerja di Pabrik
makanan. Ya, sekarang Noerlan sudah melepas predikat pengangguran yang ia miliki. Selama lima
tahun belakangan ini tidak ada kebutuhan yang terlalu mendesak untuk Noerlan. Gaji yang ia tabung
untuk membeli tanah pak Galuh pun tak sia-sia. Baru pekan lalu Noerlan menandatangani surat jual
beli tanah dan mengurus sertifikat tanah pak Galuh. Ya, tanah pak Galuh dijual untuk melunasi biaya
keberangkatan haji pak galuh dan istri. Ketika mendengar kabar itu sontak Noerlan langsung tertarik
dan terjadilah jual beli tanah yang selama ini diidam-idamkan.
Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun berlalu. Noerlan di umur yang tidak lagi muda, sudah memasuki kepala 3 akhirnya menemukan pendamping hidupnya. 4 bulan lagi akan
melangsungkan pernikahan. Surat undangan sudah tersebar ke warga desa maupun teman-teman semasa sekolah dahulu. Berbicara motor, masih terparkir kokoh ditemani oleh sepeda jengki biru
milik Mak nya dahulu.
Seperti halnya orang-orang pada umumnya, Noerlan melalui hari-hari dengan berangkat pagi untuk
bekerja dan pulang sore. Lalu, bersantai bersama keluarga kecil barunya hingga menjadi rutinitas
yang terus berjalan, berlalu, melesat bersama waktu, menjadi dahulu. Lupa akan sumpah dan janji yang pernah di elu.

Komentar
Posting Komentar